Al-Fatihah Ayat 2

الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

Alhamdulillahirabbil’alamin Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Ada tiga hal setidaknya yang mesti kita pahami terkait prasa"Alhamdulillah" pada ayat ini. Yang pertama adalah tekandung padanya penekanan bahwa pujian kita kepada Allah haruslah merupakan pujian yang tanpa kesangsian sedikitpun. Pujian yang bersifat komprehensif dan total. Artinya, bahwa dalam ini kita harus dapat sampai kepada satu titik keyakinan bahwa Allah adalah sempurna adanya dan tidak memiliki cela sedikitpun pada-Nya. Tidak ada sedikitpun keraguan pada kita akan keadilan-Nya, akan kuasa mutlak-Nya, akan kasih sayang-Nya dan akan segala kemahaan-Nya.


Yang kedua adalah terkandung padanya penekanan bahwa segala pujian itu, sepenuhnya haruslah bermuara dan atau hanya bagi Allah saja. Yang dengan ini juga berarti bahwa kita harus sepenuhnya bersih dari pada meletakan pujian atas dan untuk diri kita sendiri. Apapun kehebatan dan seberapapun hebatnya perbuatan yang sudah kita lakukan, haruslah benar-benar dapat kita pandang sebagai hal yang sepenuhnya terjadi semata-mata karena kehendak-Nya. Tidak sedikitpun ruang yang kita sisakan untuk meletakan pujian sebesar apapun itu bagi diri kita sendiri dan yang selain dari pada-Nya.


Yang ketiga adalah terkandung padanya penekanan bahwa segala pujian yang kita tujukan kepada-Nya itu bukan mengenai apa-apa yang kita dapatkan dalam hidup. Ini sepenuhnya tentang pengenalan utuh yang menghantar kita pada kekaguman total atas kesempurnaan-Nya. Dan sebenarnya, ini bukan pula karena Allah senang akan pujian, akan tetapi lantaran inilah satu-satunya pintu bagi kita untuk dapat terakses pada kesejatian kita sendiri. Melalui inilah kita akan sampai pada pengenalan akan siapa hakikinya diri kita ini. Inilah jalan yang akan mengkoneksikan fitrah kita yang memang pada dasarnya adalah fitrah Allah itu sendiri.


Ketiga perkara di atas tentu bukan perkara mudah. Dibutuhkan wawasan dan ilmu yang kuat yang dengannya kita dapat membentuk butir-butir prinsip (hujjah) yang kemudian dapat kita jadikan sebagai intsrumen untuk membangun pilar-pilar keyakinan yang kokoh yang menjadi penopang sikap hidup dan nasib kita. Dan wawasan pembuka yang dihadirkan pada ayat ini adalah pengenalan akan prasa "Raabil'alamin".


Prasa "Rabbil'alamin" yang diterjemahkan dengan "Tuhan semesta alam" pada ayat ini, mengandung pengertian bahwa Allah adalah penguasa, pengatur, pembina, penjaga dan pemelihara dari pada semesta (keseluruhan; total dan penuh) alam ini. Dia adalah penguasa mutlak dan Dia tidak berbagai kuasa kepada apapun dan siapapun juga. Ini pengenalan pertama yang amat penting. Kesangsian kita atas kuasa mutlak-Nya; anggapan kita adanya kuasa-kuasa yang tidak berada dalam genggaman-Nya; prasangka kita bahwa ada daya pada diri kita; ilusi kita bahwa kehidupan ini tidak dalam kendali penuh-Nya, adalah distraktor yang menghalangi kita dari penyatuan dengan kesejatian atau keilahian kita sendiri.


Dan jika kita sambungkan dengan ayat pertama surat Al-fatihah, terlengkapilah wawasan kita bahwa Dia yang kuasanya mutlak itu adalah Dia yang Rahman dan Rahim. Dia yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia yang sedikitpun tidak pernah lepas dari mengasihi dan menyayangi seluruh makluk-Nya.


Dalam sebuah hadist ada dikatakan bahwa "Allah sesuai dengan sangkaan hambanya terhadap-Nya" . Artinya memang bahwa sangkaan atau seperti apa set pikir dan set rasa kita tentang Allah adalah energi utama yang membentuk keseluruhan sikap dan nasib hidup kita. Menyetel dalam setelan yang tepat set pikir dan set rasa kita terhadap Allah adalah kunci untuk terkoneksi dengan kesejatian atau keilahian kita.


Set pikir dan set rasa kita haruslah merupakan sebuah set keyakinan bahwa Allah adalah penguasa mutlak dan pengasih-penyayang mutlak. Sebab terkadang, disadari atau tidak disadari kita sering kali berada dalam kesangsian akan kemutlakan kuasa dan kasih sayang-Nya itu. Seberapa besar kekhawatiran dan ketakutan yang bersarang di kalbu kita adalah indikasi seberapa besar kesangsian kita akan hal tersebut.


Bukti-bukti bahwa Allah Rabbilalamin dan bahwa Allah Rahman Rahim yang banyak bertebaran di hadapan kita ini, haruslah terus kita kumpulkan untuk menjadi hujjah yang menghapus segala kesangsian kita tentang-Nya. Bahwa Dia mengendalikan segala sesuatu yang bahkan sehelai daun yang jatuh di tengah hutan lebat di kegelepan malam pun ada dalam kendali-Nya; bahwa Dia memelihara segala sesuatu yang bahkan serangga-serangga kecil yang hidup di goa-goa gelap nan sempit pun ada dalam pemeliharaan-Nya; bahwa dia mencintai seluruh mahluk-Nya yang jangankan kita manusia, bahkan miliyaran semut yang ada di bumi ini disiapkan-Nya dengan baik rezeki bagi mereka, adalah secuil bukti-bukti bahwa Allah Rabbil'alamin dan Rahman Rahim.

24 views0 comments

Recent Posts

See All